Rehabilitasi Rumah Adat di Olayama-Bitaha, Huruna, Nias Selatan

 

Rehabilitasi Rumah Adat di Olayama-Bitaha, Huruna, Nias Selatan

Pada  awal bulan Oktober lalu, Tirto Utomo Foundation telah bekerja sama dengan Museum Pusaka Nias untuk membantu  merenovasi salah satu Rumah Adat Nias yang berada di desa Olayama, Bitaha – Nias Selatan. Rumah tersebut ditempati oleh Ibu Yuliana La’ia (Ina Suni) yang lokasinya berdekatan dengan megalith-megalit yang ada di Bitaha, namun semua telah tumbang pada saat gempa bumi tahun 2005.

Pada tahun 2007 Museum Pusaka Nias bersama masyarakat setempat, tokoh agama dan tokoh adat merehab dan mendirikan kembali megalit-megalit yang tumbang akibat gempa. Dan sekarang Tirto Utomo Foundation  turut membantu dalam merenovasi rumah adat yang lokasinya berdekatan dengan situs  megalith di Bitaha ini.

Tujuannya adalah untuk memulihkan kembali keagungan tempat situs tersebut. Dan juga supaya dengan kehadiran Ibu Yuliana La’ia di rumah adat tesebut, megalit-megalit yang ada terhindar dari pencurian.

Menara Kayou

Menara Kayou

Kampung Suroba yang terletak di pedalaman Lembah Baliem, Kabupaten Jaya Wijaya, Wamena, Papua, memiliki sebuah menara pengawas, atau biasa disebut Kayou yang digunakan sebagai penanda pintu masuk.

Sekarang kondisi Kayou ini tidak terlalu baik, karena banyak ikatannya yang lepas dan lapuknya kayu. Tinggi menara Kayou sekarang ini hanya sekitar 5 meter saja, berbeda dengan ukuran Kayou saat dulu yaitu setinggi 10-12 meter. Sehingga masyarakat Kampung Suroba ingin `mengembalikan` kondisi Kayou seperti dahulu sehingga fungsi Kayou dapat digunakan kembali dengan baik.

Dan dalam melaksanakan komitmennya di bidang kebudayaan, Tirto Utomo Foundation (TUF) pun membantu masyarakat kampung Suroba untuk mengembalikan kondisi Kayou seperti dahulu kala.

Awal Desember ini pekerjaan sudah dimulai dan sampai saat ini menara Kayou sudah selesai dibangun. Dan  sekarang Menara Kayou sudah berdiri tegak kembali dengan tinggi 10meter. Diharapkan Menara Kayou ini dapat berfungsi kembali sebagai Simbol Kebudayaan dari Lembah Baliem.