PEMBANGUNAN RUMAH GAMELAN TIRTO ARUM SARI, SEDAYU

PEMBANGUNAN RUMAH GAMELAN TIRTO ARUM SARI, SEDAYU

Yayasan Tirto Utomo dalam dalam melaksanakan komitmennya dalam bidaya kebudayaan telah membantu membangun Rumah Gamelan Tirto Arum Sari, Sedayu. Pembangunan tersebut dimulai pada bulan April 2014. Sebelum memulai pembangunan, masyarakat Sedayu mengikuti tradisi Jawa yaitu penanaman pohon Sawo Kecik disekitar Rumah Gamelan. Pohon ini merupakan lambang “nandhur kabecikan” atau dalam bahasa Indonesia “menanam kebaikan”, dengan harapan keberadaan Rumah Gamelan akan memberikan manfaat bagi kelestarian budaya Jawa di masa yang akan datang.

Tahap pertama dalam pembangunan adalah pembuatan pondasi dan pemasangan dinding batu bata. Dalam pelaksanaan pembangunan, masyarakat Sedayu menggunakan pendekatan pemberdayaan masyarakat dimana seluruh proses pembangunan dilakukan dengan menggunakan potensi lokal serta melibatkan peran aktif masyarakat sekitar. Hal ini bertujuan agar masyarakat Sedayu memiliki rasa ‘kepemilikan’ terhadap Rumah Gamelan tersebut.

Sekarang proses pambangunan sudah berlanjut sampai ditahap ke dua, yaitu melanjutkan pemasangan dinding bata dan pemasangan atap. Sebelum pemasangan atap masyarakat melakukan tradisi Jawa yang disebut acara Munggah Molo atau acara doa selamatan untuk mengiringi dipasangnya Molo (kayu atap tertinggi dari rumah yang sedang dibangun). Acara ini merupakan bentuk permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar rumah yang dibangun dapat awet tidak cepat rusak dan penghuni rumah tetap diberikan kesehatan dan rejeki yang melimpah.

Dan semoga pembangunan Rumah Gamelan Tirto Arum Sari dapat berjalan dengan lancar dan selesai tepat waktu, agar Rumah Gamelan tersebut bisa memberikan manfaat baik dan masyarakat bisa menggunakan tempat ini untuk terus berlatihan kesenian.

Hasil Akhir Rumah Baca Tirta Gayu

Rumah Baca Tirta Gayu, Betang Ensaid Panjang

 

Pembangunan Rumah Baca Tirta Gayu yang dimulai sejak bulan Agustus 2013 akhirnya selesai pada bulan Mei 2014. Proses pembangunan sempat jalan ditempat karena para pekerja Rumah Baca Tirta Gayu membagi waktu dengan proyek Rumah Betang. Walaupun proses pembangunan sempat terhenti, tidak membuat masyarakat putus asa. Mereka tetap memberikan dorongan agar pembangunan cepat berlanjut.

Akhirnya sekarang Rumah Baca Tirta Gayu sudah berdiri kokoh dan sudah mulai digunakan oleh masyarakat sekitar, terutama anak-anak. Anak-anak antusias dengan adanya Rumah Baca ini, mereka jadi mempunyai sarana untuk belajar sambil bermain.

Dan Rumah Baca Tirta Gayu sendiri mempunyai tiga kegiatan utama, yaitu PENDIDIKAN dengan menanamkan minat baca sedini mungkin. BUDAYA dengan kegiatan tarian Dayak dan kunjungan ke museum. LINGKUNGAN HIDUP dengan kegiatan persemaian dan penanaman pohon. Tujuan kedepannya bahwa mereka bisa menjadi manusia Dayak yang berpendidikan dan bangga mengakui ke-Dayak-annya dan memiliki wawasan terhadap lingkungan.